Kamis, Oktober 05, 2006

lemari wedhus...

Hari ini sirahku rodo kemut kemut, bukan karena kejeblès cagak jembatan wesi, namun ada permintaan owner yang agak ngganjel. Ada orderan bikin cabinet buat mini pantry ato mini bar gak ngertilah kalo orang pinter ngistilahkannya apa. Kalo saya taunya ya kemari buat wadah gelas, botol anggur (bukan anggur merah cap orang tua) sama kulkas mini. Okelah kecil kalo cuman kaya gitu.

Yang jadi permasalahan adalah yang presentasi di tempat kerja saya bukan orang orang arsitek ato desain interior ata minimal orang yang tau teknis. Tapi justru orang orang psikolog. Kok bisa? Ya itulah hebatnya tempat kerja saya.

Oke lagi lah presentasi kono ra kono. Tapi lucunya ada deal proyek yang bikin otak bagai mau mlorot ke gulu. Bagaimana tidak, habis liat credenza yang full mirror, minta bikin cabinet tadi pake wall paper dan clear glass. Sepele? Ya sih keliatannya.

Wallpaper yang jadi pembungkus konstruksi cabinet itu gampang tapi habis itu di lapis pake kaca bening dan gak mau ada fitting kaca ke lemari ato bingkai ato apa. Pokoknya polos mirip credenza. Lha iya kalo cermin, mau dilem pake upo campur idu kalo kuat bisa, lagian ketup, ga konangan bosoknya. Tapi ini clear glass..!! ini sih bukan kerjaan, tapi kerjain.

Hahh... habis itu aku inget, kemarin habis ikut seminar tyfo conference di century senayan ada fibrsheet bening untuk perkuatan. Nekat nekatan tadi saya rembugan sama sesama teman senasib di kantor (sama sama yang disuruh mikir). Itu cab habis di pasang kaca terus diblebet pake fibrsheet piye bos..? tapi konsekwensinya pasti bludak danane.. ya udah nanti kita floorkan..

Akhirnya ga jadi tuh proyek, untung... pangestunipun Ngarsa Dalem. Si owner berubah lagi pikirannya (taulah habis kejeduk lingir kolah opo piye ora ngerti aku)

Coba kalo jadi, dan usulan saya diterima.. pihak kontraktor materialnya bingung pasti.. (karepe wong iki piye...??!! batine mesti ngono) Lha wong sheet buat strengthtening konstrusi beton dibuat mblebet koco lemari..

susah kerja di interior.. susahnya bukan pekerjaannya tapi saiki angger wong kalo punya duit, kulina maca Laras, Asri dll dan pinter kongkan kongkon pasti buka konsultasi desain interior. terkenal sithik ngaku desainer. piye ya standarisasine? ra mudheng aku.

Posted by endik sangar at 17:13:44 | Permanent Link | Comments (6) |

Jumat, September 15, 2006

ruang publik jalan dan dilematisnya

sering kita dengar koar koar wong sing kakehan sinau, Indonesia tak teratur.. pengelolaan tidak profesional..harus meniru negara tetangga rapi bersih.. pelestarian ruang publik.. kota ideal dengan green belt.. terutama masalah ruang publik seperti jalan raya   

susah lho kalo mo mikirin antara idealisme ekologis arsitektur vs masa depan istri/anak. kalo udah masuk di persaingan kontraktor (lokal dulu ne ngomongnya) fasilitas umum (terutama jalan) memiliki porsi lebih dalam kehidupan konst indonesia. ada kaisar china dinasti ke berapa juga saya lupa, membuat pernyataan kalo ingin membuat negara menjadi maju, jelas butuh sebuah prasarana transportasi yang baik. kenyataan awalnya hal ini adalah suatu SARANA UMUM yang di pake bersama untuk KEPENTINGAN UMUM. Permasalahan budaya yang mengacaukan idealisme awal ini. contohnya,kita masih ada level levelan/ tingkat kasta dalam bermasyarakat. hal ini membuat kesan bahwa seseorang lebih berhak dari pada yang laen. Pengaruhnya juga pada penggunaan jalan. Padahal ada banyak orang yang selalu ingin menjadi bagian dari kasta yang tertinggi. Ingetnggak dulu waktu masih kecil, mami, papi, kakek nenek selalu nimang2 besok cah ayu/ cah bagus jadi orang kaya/ pejabat/ orang sukses. Itu satu anak kecil, padahal tiap generasi ada sekitar 2 juta anak se Indonesia tumbuh pertaunnya. Piye jal?

Permasalahan utama sarana transportasi selalu di jadikan alasan, dan kadang memang betul alasan itu. KETEPATAN WAKTU angkot memang kadang ga bisa diandalkan, BERDESAKAN bikin malezz (apalagi duduk di samping orang kemproh yang bajunya gak pernah ganti, mukanya gak fresh dsb, jijik) RESIKO KEAMANAN yang tidak terjamin. Dsb.

Kalo udah keluar kata2 “ saya kan punya uang? Kenapa harus ikut ikutan jadi orang susah kayak gitu?’ asik deh.

Pemerintah kota mungkin sedang berusaha mengakali permasalahan itu dengan penyediaan BUSWAY, SUBWAY, MONOREL,  komunitas2 aktiv pun sudah dirintis seperti BIKE TO WORK, penataan kota yang mendukung seperti, kawasan bebas polusi, citywalk dsb, manajemen kota juga mendukung dengan hari bebas polusi,

Tapi, “inikan uang uang saya? Suka suka saya donk?”

Gimana coba? Susah lho... masak lupa sama lagunya Frank Sinatra “ My Way”?

Tingkat kedisiplinan dan kedewasaan beda.. jangan samakan dengan amerika, eropa..

BUSWAY dicanangkan pengguna jalan geger karena jalan kepotong 1 lajur buat prasarana busway. Pemerintah berusaha belajar dari negara kolombia yang meskipun banyak kriminalitas namun sukses dalam penerapan sarana transportasi BRT ( Bogota-style Rapid Transit) adalah suatu sistem MASS Rapid Transportation yang suksezz dan terkenal. Pernah juga menimbulkan pro kontra namun skrg masyarakat (sana) dapat menikmati. Sedangkan penerapan di Indonesia direncanakan ada 15 koridor. Edan ya? Nggak sih itu usaha pemerintah yang teorinya bakal jitu, ambil 1 lajur per arah ntar kan jadi macet lama2 orang bakal muak kalo pake mobil pribadi malah ketahan d jln gr2 macet. Karena kira kira pertumbuhan kendaraan pribadi d jkt pd th 2014 depan diperkirakan 3 jt unit sedangkan porsi jalan d jkt ‘Cuma 45jt m2’ perbandingan pribadi ma umum (bus n truk) itu 1:9 totalnya di 45jt m2 jalan itu disesaki dengan 30jt kendaraan. Padahal idealnya, kendaraanitu global (sedunia) kayaknya 1unit :250m2 (lupa saya) coba aja hitung sendiri idealnya brapa?

Saya pas lagi tongkrongan di jln pernah liat ambulan nguing nguing tapi kejebak macet.. kasian banget.

BUSWAY moga moga sukses......

Tapi sayangnya masalah menyangkut keamanan dan kenyamanan (safety and security), keandalan (reliability), dan keterjangkauan (affordability) selalu jadi kendala. Fasilitas tidak terawat, betul gak?, bis kadang kadang mogok, betul gak? (Cuma 1, 2 unit sih tapiiii, that’s means there is something wrong with the maintenancenya kan? Bandrek membandrek jadi budaya alasannya pasti cost production, cost maintenance vs pendapatan dan subsidi gak imbang (kliseeee, pasti merugi). Padahal standar diesel EURO II cukup ramah lingkungan karena carbon hasil pembakaran terbakar habis sehingga CH, CO, CO2 jadi rendah angkanya...

Patokan 3 menit per arrival n departure gak bisa di tepati, kadang numpuk, kadang gak datang datang tuh bis.

Permasalahan ini merupakan bagian sebuah resiko yang secara toeri bakal berubah menjadi ideal jika sudah memasuki koridor 14 sekitar th 2018? Berdoa sajaa

Agak nggonduk juga si,, dari segala macam kebaikan busway yang direncanakan asoy tenan, sedih juga melihat pedestrian path yang dikorbankan. di bongkar gitu.. liat saja di jln warung jati barat.. sayang saya tak mengambil fotonya..

 

kembali ke pola hidup masyarakat kita, sangat susah untuk berubah secara global. Mereka harus di paksa dan dibiasakan berubah. Kelihatannya melanggar hak asasi manusia tapi inget Kolonial Belanda dapat kongko2 di Ind selama 350 th dengan menerapkan strategi itu, jadi level tertinggi dari yeng tertinggi trus geser jalan yang dibawahnya.

It’s depend on the highest level, it’s can be governor or the president?

 

saya dari ngrambyang pikiran di atas jadi timbul pertanyaan kaya gini..

Apakah kalo ada kegiatan internasional (jauh ni ya mikirnya...) seperti KTT presiden dan perdana mentri negara negara tetangga dan negara sahabat harus naik BUSWAY????? Dari bandara naik bus feeder, trus oper ke busway baru setelah itu naik kancil?

kalo ada salah kata dan sumber maaf yaaa...

 
Posted by endik sangar at 15:54:42 | Permanent Link | Comments (2) |