Selasa, Oktober 31, 2006

dilematisnya rai ku

hari ini saya di paido oleh seseorang pelanggan komen di postingan saya hari ini karena terlalu serius..

 

lepas dari hal-ichwal di atas, sebelum lebaran, pertengahan bulan Oktober ini saya juga dipaido tapi oleh bos saya..

“Kamu tahu?! Kita adalah perusahaan profesional. Saya nggak mau lihat kamu kayak student. Saya mau lihat kamu berpenampilan lebih profesional !”

Saya masih melongo karena dapet sarapan kados mekaten..

“ Rambut kamu potong! Kuku kamu potong! Awas kalo tidak mau dipotong. Saya yang motong kuku kamu..!”

Tanpa sadar saya langsung ber he..he.. ria. wah ciloko yen dipotong bos trus malah drijiku katut ke kethok..

“ Ya bu, nanti saya potong..”

“ Nggak ada nanti, sekarang! Habis ini kamu naik ke ruangan saya. Meeting! Awas kalo belum dipotong!”

 

Malemnya saya cangkrukan sama Mas Bangsari dan Mas Bahtiar, pas Mas Elzan belum datang..

“ Yo yen ketemu klien kudune rapi karo ketok serius..”, kata mereka koyo dikongkon malaikat.

 

Yah.. Preinan bagda kemarin saya pulang. Hal serupa juga di tema kan saat ngobrol ngalor ngidul di rumah.. Simbah, Pak’e Mak’e saya juga menceramahi saya tentang hal yang sama.. penampilan individu.

“ Yo yen pengen diajeni wong liyo yo kudune ngajeni awake dewe dhisik..” kata kata yang selalu terukir sejak saya sekolah dulu.

 

Bukannya pengen persetujuan tentang penampilan, sebenarnya saya gondrong biar kelihatan sangar.. (om rambo juga gondrong). Trus dandanan asal asalan juga karena saya dulu penganut aliran anti kemapanan saat kuliah.. (tapi sekarang sudah aliran kemapanan, mapan sak nggon nggon..) tapi jujur saya nggak pinter dandan. Sama sekali gak bakat dandan, apalagi punya cita cita metroseksual..

 

Sohib saya si Agus kemaren jumat sabtu juga saya sambati, tapi..

“ Aku yo wingi dikon potong kok karo wong tuwaku, aku meneng wae, ora tak tolak tapi ugo ora tak iya ni.” Waa nasibnya sama.. lalu dia meneruskan,

“ Llha piye koyone awake dewe kuwi ra pantes, ora duwe rupo gali dadine gondrong yo ora pantes..” obrolan malah berlanjut ngrasani teman teman yang lain yang pantes gondrong tapi yo kuwi, rodo.. (istilah sanskertanya, tampang METALICA hati ELEMENT)

Mbuh ah..  

Saya potong rambut  akhirnya, di Potong Rambut Madura dekat rumah saya yang habis potong rambut trus sirah dikuyel kuyel dan ditekak tekuk sampe bunyi klethak klethek itu lho, ditipisi, dipotong 2 senti, seperti sedia kala. Tapi..

“ Wuiii... gayane.. buajingan.. dandanane.. macak serius.. dumeh Jakarte.. Gaul saiki..” kata teman teman yang lain malah mbajingan mbajinganke saya saat ketemu di kondangan teman saya juga dan tak temoni jaluk udud, lhah.. saya padahal cuma dandanan hem heman kotak kotak, tak tutupi hem lapangan, kayak biasanya dan pake sepatu pantopel anyar (isih reyen),

“ Lha opo teko kondangan kon udo nda.. raimu kuwi koyo sempak kondor” 

Balik lagi ke awal.. kayaknya muka saya ini muka dilematis... serius malah wagu (gak pantes) tapi kalo kemproh pantes tapi dipaido wong akeh..

Haaahh.. mbuh lah..aku tak  udud sik ya.. wis wayahe bali kerjo..

Posted by endik sangar at 16:01:28 | Permanent Link | Comments (13) |

tenan ora...

Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?....

 

Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian
permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah
melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya,ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia
(dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam,ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia
bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan
Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya
sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***

 

Note: Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis 
 

 

aku entuk seko kene

Posted by endik sangar at 12:34:33 | Permanent Link | Comments (2) |

Selasa, Oktober 24, 2006

sepenggal kisah Sabtu 21 Oktober 2006

Aku bangun pagi sekitar jam 6. bukannya hobi bangun pagi, tapi kontrakan saya dibuat kruntelan 4 orang karyawan kantor sehabis lembur proyek dan lek lek an ala cah nom. Dan mereka pada bangun mau pulang. Oke deh. Matur nuwun kersa mampir. Setelah mereka pulang offcourse saya ngglethak lagi tidur sampai jam 10..

Bangun bangun mandi noto noto barang tak lupa ‘Mbah Gambir’.. laptop ECS saya yang tercinta… sak cas casannya  ok.. dan berangkat, lho bawa laptop gak resiko? Santai bos.. muka saya bukan muka wong sugih. Si muka kere dangkle... tak lupa pamit tonggo kiwo tengen. Ternyata ada juga tetangga yang mau mudik. Dia tujuan Cepu dan hendak naik Kerta Jaya. Oke kita pisah sementara..

Berangkat dari kontrakan mampir dulu ke komplek Zeni di empang nemuin kolega untuk nunut ‘nyruput’ kopi. Jam 12 siang saya berangkat ke sta Kalibata ke Manggarai.

Di Manggarai lingak linguk ke Depo gak ada lok yang mau narik gerbong..

Yo wis lah tunggoni sedelok. KRL riwa riwi saja mara’ke bludrek ndang mangkat bali ndeso.. sante wae lah.. saya mengademkan diri.

Kiri kanan tanya orang yang bawa tas gedhi, “badhe tindak pundt pak…?” Lho kok pake boso jowo? Jelaslah hampir 85% pemudik via Kereta pasti wong Jowo.. wah wong Madiun, nunggu KRL arah Tanah Abang untuk oper ke KA Brantas..

Tak sabar aku segera ke Depo dan nemuin para karyawan balai yasa yang lagi kongko kongko..

“pak ada kereta ke Semarang?”

Disarankan ke tanah abang, naik Brantas trus turun di Cirebon oper lagi dan gerbongnya lagi di lansir, lari aku ngejar gerbong dan sayang gak ketututan.. wooo wedhus

Terpaksa mBonek KRL Tanah Abang.. sial lama banget nunggunya.. akhirnya datang juga KRLnya, ternyata operan dari KRL Bogor- Manggarai. Jam 3 baru berangkat sedangkan si Brantas berangkat jam stgh 4. yahh.. gambling lagi.. Duduk ku di kursi gerbong ke dua dekat pintu depan.. wah pas… diperon ada memedi ayu banget pake baju putih.. wiii nggemeske.. pandangan sering ketemu, lempar pandang sesekali lirik.. waahhh.. pucciiiing.. tetap tak pandang matanya.. (seperti yang di ajarkan oleh om RAMBO ketika memburu musuh) namun sayang ada “kirik”nya..

Kereta berangkat ke Tanah Abang dan sampa di sana KA brantas sudah berjejal penumpang. Langsung aku ke lok dan pas tinggal tempat satu pasang telapak kaki.

Kereta berangkat dan di pasar Jatinegara sinyal merah lama banget.. dan jejeran sama Kerta Jaya.. sama juga, jejelan wong dan pating grandul..

Sampai di sta Jatinegara kereta berhenti dan waduuuhhhh… dioprak oprak sekuriti. Bawa penthungan mula mula dek lok yang di gebuki namun lama lama kaki juga kena.. buajindooot.. loro pak.. yo yo midun midun..

Wedhus.. disuruh pindah ke gerbong tapi penuh jejal..

Sial Kerta Jaya damai gak di oprak oprak, soalnya gak transit dulu di Jatinegara. Akhirnya disuruh tunggu kereta belakang. GayaBaru selatan. Lhah yo podo wae..

Udud deh saya jagongan di buk dekat wesel sambil nonton ndangndut yang disediakan untuk pemudik dan masyarakat sekitar, didekati porter stasiun.

“Mau ke mana mas?”

“Semarang” jawab saya.

“lho semarange ngendi?”

“Jatingaleh” jawab saya sekenanya. “lha njenengan pundi mas?”

“Aku Ungaran.. wis ngenteni wae mas ng peron kono ngko jam stgh 8 nunut Senja nek rak ngko bengi Tawang Jaya, wis neng kono wae, nek rak nunut sepur iki wae neng Senen”

“beres.. mas” balas saya.

Tak lama ada bapak dan anaknya yang duduk dekat saya. Bawaannya lumayan banyak.

“kemana mas?” tanyanya.

“Semarang pak..”

“Lho Semarange ndi mas?”

“Jatingaleh pak.” Jawabku,”lha njenengan?”

“Aku Senjoyo Mas, tapi aku arep neng Cikampek mas”

Ngobrol ngalor ngidul.. trus sama seperti porter tadi, saya disuruh ke Senen.

Otaku mikir juga, kalo tetap disini gak bakalan bisa bonek.

Tanpa pikir panjang saya naik kereta yang ditunjuk bapak tadi, ke arah Senen.

Didalam kereta ngobrol dengan penumpang, ditanyain kenapa kok balik lagi ke Jakarta.. trus oleh pedagang asongan saya disarankan ke Kota. Namun oleh penumpag lain disarankan turun Senen saja trus tunggu kereta, karena di Kota hanya kereta kereta Eksekutif..

Turun di Senen, walah bejubel orang ngebak baki stasiun. Akhirnya nekat saya ke Kota..

Jam stgh 6 sore di Stasiun Kota, bukannya ke loket tapi menuju ke loko kereta. Samapi disana banyak pemudik BONEK yang berkumpul, langsung aja aku ‘ngumpul’ ternyata kereta yang disasar adalah Sembrani, setelah omong omong aku lari ke peron beli aqua dan rokok itung itung nukerin duit. Sesaat sebelum kereta berangkat saya bersama BONEK lain ‘arisan’ ngumpulin duit yang mau disumbangkan sebagai ‘sangu’ untuk masinis dan asistennya.

jam stgh 7 tet kereta berangkat dan di kabin lok ada sekitar 12 BONEK dengan berbagai tujuan, ada yang sampai Brebes, Tegal, Pekalongan , Semarang, Cepu dan tentunya Surabaya.

Mendekati Gambir lepas dari Juanda para penumpang gelap pada jongkok di kabin untuk menghindari pemeriksaan. Lumayan lama juga dan badan rasanya sakit karena harus kruntelan di kabin sempit. Gak apa lah. Jam 7 kurang 2menit kereta berjalan dan di daerah pasar Jatinegara kereta berhenti sebentar karena ada 1 bonek lagi yang mau nunut.

Setelah naik, para bonek jongkok lagi karena melewati sta Jatinegara. Lepas dari sana kereta berjalan mulus tanpa hambatan, tak terhitung kereta yang ngalah untuk kami salip. Namanya juga sembrani.

Tak betah didalam saya keluar di dek lok. Jongkok cekelan pipa pegangan tangga lok sambil udad udud.. wanna nice time (buat saya tentunya, tiap orang beda selera.. ya gak?) Di Cikampek saya masuk dan kami ndodok lagi. Cirebon jalanan muacet, trus lepas dari Cirebon di Losari dan Tanjung Brebes terlihat antrean mobil, motor dan bus di jalanan yang padat merayap..

Di Tegal kereta berhenti lama, Gumarang yang beda jam berangkat hampir 1 jam sampai tersusul. lama kereta menunggu, ada 1 jam an lah, saya tak sambi makan sego wungkus 2500 rupiah yang katanya nasi goreng ternyata nasi rames.. yo wis lah, idep idep isi weteng. Saya dari pagi gak makan, Cuma ngombe dan udud. Puasa? Gak lah.. musafir..

Habis makan udad udud sambil ngobrol dengan masinis dan ast nya serta penumpang lain.. woo ternyata ada rel putus ato sabotase di daerah tosari ato mana itu saya gak pati nggatek ke.. nyuwen nyuweni tok..

Gumarang berangkat, tapi kereta saya masih ketahan, biasa tunggu antrean. Lho lha kok suwi pol? Lhaaa.. kesusul Senja Utama padahal beda apperturenya 1 jam an.

Kereta kami berhenti lagi di Pekalongan dan ganti masinis…

Arisan lagi…

Lepas dari stasiun Bodri Kendal, ast masinis saya jawil… “pak turun di Kaliwungu ya..”

“o ya ya mas.. nanti berhenti..”

Sampai di kaliwungu kereta perlahan karena sinyal kuning, “tunggu berhenti mas, jangan lompat.. berhenti kok mas berhenti.. tenang saja..” kata masinisnya, “ya.. ya pak.. ini saya gak mau lompat, ini ada wong nglemprak meh kepidak..amit pak nuwun sewu.. meh midun..” begitu dekat sta, sinyal hijau lagi, tapi kereta berhenti dan saya turun..

“ya sudah pak.. makasih..!”

Stgh 4 pagi..   “..sudah biasa kereta terlambat.. dua jam sudah biasa..”Lewat di stasiun, saya ditonton orang orang disitu.. ka perjalanan, juru sinyal, dan wong kongko kongko sambil gedhek gedhek. . “monggo pak, nderek langkung…”

Berjalan ke jalan raya dan tunggu angkot, pagi pagi gak ada angkot.. sial.. bus bus AKAP arah Jakarta pada minggir nawari tempat.. maklum pada kosong.. akhirnya ada deh yang ditunggu tunggu.. bus lokal.. mencolot naik deh.. huup..!! brak.. lhaaahh.. nabrak ember isine bandeng.. kecipratan banyune… amiiiiissss… lali aku yen isuk isine bakul bakul tok arep nyang pasar..

Stgh 5 pagi saya sampai rumah dengan safely.. thanks God, I am ok..

Posted by endik sangar at 00:41:57 | Permanent Link | Comments (18) |

Rabu, Oktober 18, 2006

...............................................................................................................................................................

Aku jelas gak dapet THR lebaran ini. Yang aku tunggu tunggu cuma datengnya “akhir bulan”. Pada perusahaan tempat aku kerja gajian dibagi akhir bulan. Idealnya THR dibagi 10 hari sebelum lebaran dan sangat mudah ditebak THRnya “molor” baru dibagi kemaren. Iya kemaren ini tanggal 17 Oktober 06.  ya udahlah yang penting ada THR dan gak diutang. (kasian yang mau lebaran)

“Jakarta penuh ama perantau.., lebaran ini sepi dah.. coba aja sekali kali lebaran di sini, bener dah kaya kuburan, elu mau tidur di jalanan aja kagak apa apa”  kata seorang teman yang katanya aseli Betawi dengan logat khas lu gue..

Lebaran, mudik, pulang ke asal, ketemu sama ortu dan handai taulan untuk bersilaturahmi. Tidaklah menjadi tradisi perantau Muslim saja namun menjadi sebuah  tradisi yang tak terpisahkan dalam kehidupan para perantau di Jakarta.

Saya juga pulang. Niatan mau ketemu ‘orang rumah’, apalagi nenek saya merayakan lebaran namun dalam keadaan sakit (dan sempat di opnam masuk kemaren senin dan kabarnya hari ini sudah boleh pulang... boleh pulang ato maksa pulang gak tau lah saya).. nenek adalah sebagian yang sangat penting dalam kehidupan saya. (tak perlulah saya jelaskan kenapa ya). Dan beliau sering sakit sakitan semenjak saya “tidak pernah di rumah”

Jadi the main resultnya:  SAYA HARUS PULANG

Balik ke perusahaan tempat saya nggantung urip. Isu yang berkembang adalah adanya gaji yang diajukan sebelum masa liburan (biasanya tiap gaji tanggal 28) karena hari ke 28 bulan ini jatuh pada masa liburan. Dan ternyata TIDAK. Gaji malah diundur setelah libur Lebaran. SIAAALL.. duit saya sudah hampir habis dan saya cuma gambling mengandalkan gajian. Akhirnya kemarin setelah ada pembaritahuan resmi pengunduran gaji, saya KASBON ke kantor dan dikasih maks 300 ribu.

Kerjaan akhir akhir ini menumpuk akibat rata rata klien minta target sebelum Lebaran (lumrah) tapi Bos saya ada launching produk baru, mau tak mau kami pekerjanya 'dipecut', capek bukan main

tapi saya sebagai tenaga ahli GA DAPET UANG LEMBUR. pernah saya mokong nekat cabut akhirnya malah ada crash dengan senior saya. GA TAULAH BANYAK YANG CARI MUKA saat ada event kaya gini.

Pengumuman resmi liburan juga baru keluar kemarin senin. Jadi sebelumnya saya tidak tau kapan libur resmi perusahaan yang berakibat saya kehabisan tiket kereta pulang. Tapi untungnya masih dapat tiket balik ke Jakarta.

Gimana saya pulang bukanlah menjadi masalah buat saya (saya belum ada tanggungan “anak orang lain” jadi masih bisalah, untuk jadi BONEK sampai rumah)

Tapi apakah saya pulang cuma dengan membawa pakaian yang melekat, aqua botol, rokok sebungkus dan korek api? Okelah namanya juga bondo nekat

Tapi lagi saya berpikir afdolkah pulang dari rantau tak bawa apa apa?

Melayang pikiran saya kalo di kampung saya kumpul dengan teman teman yang pastinya sebagai ‘anak hilang’ mereka melampiaskan rasa kangen ngobrol ngalor ngidul sambil ‘nggarong’ entah bakso, mi ayam, pecel, ato apalah..

 

Benar benar kacau pikiran saya saat ini,

 

Pagi tadi empat batang Samsu eceran dan segelas nescafe coffemix gak mampu meredam traffic jam di pikiran saya

 

Tengkyu lah Kla Project, lagu di radio kantor yang saya dengar saat ini agak menenangkan pikiran saya. Saya harus pulang, gimanapun caranya,
..Ketika hati mulai sepi tanpa terobati...       

 

Saya mau udud lagi.. udah jam istirahat..

Posted by endik sangar at 12:04:32 | Permanent Link | Comments (18) |

Rabu, Oktober 11, 2006

temen saya punya cerita..

Yang namanya temen akrab dan jarang ketemu pastilah ada banyak hal untuk diomongkan, begitu pula saya dan temen akrab saya. Tongkrong di bibir teras Kalibata Mall sambil ditemani sebungkus Gudang Garam International Filter kretek cigarettes dengan kode produksi 35536 alangkah nikmatnya.

 

Setelah duduk dengan santai dan pandangan luas ke arah parkiran dan jempatan layang Kalibata, rokok di nyalakan, dan kata pertama yang kuucapkan adalah

“piye nda..”

 

Bagai orang lapar disuguh nasi, ikan asin dan sambel trasi, temenku mulai ‘ngopleh’, amat sangat panjang lebar ceritanya mulai dari hingar bingarnya KRL Jakarta - Bogor sore hari hingga ke urusan ranjang. (mohon diketahui ini bukan masalah seks, wong kami masih bujangan dan sama sama laki laki normal, tapi ranjang ato kasur temen saya ada kutunya ato basa Jawanya ‘tinggi’, jadi tidurnya disambi gatel gatel. Kemproh ya..?)

 

Pembicaraan mulai serius ketika tema yang diangkat adalah hubungan interpersonal, dia habis dicurhati sama temen cewek dia (bukan pacar lho) soalnya habis dikecewain sama lelaki. (Nb: ni cewek katanya cuantik buanget, jika diterjemahkan ke basa Jawa, ayune ngahudubilah setan alas) makanya dia mau aja dijadikan tempat curhat, siapa tau kalo tiba tiba si cewek nangis dan meluk... ooohhhhhh... (pingine kok mesti sing ora ora)

 

Dengan tegas si cewek (maaf identitasnya di sensor ya) mengatakan kalo;

SEMUA LELAKI DI DUNIA INI SAMA SAJA. ALIAS BEDEBAH. APALAGI COWOK COWOK YANG GANTENG. KALO TIDAK BRENGSEK YA HOMO.

 

Saya sampai mengurut dada (dada saya sendiri) ketika teman saya dengan berapi api dan berkebul kebul (kemebul mergo rokok) menceritakannya.

 

Batin saya “lha kok deweke critone karo kowe..? kowe ra dianggep lanang to nda.. ngawur wae kuwi cah ayu, berarti pakne, mbah kakunge kuwi yo bedebah, opo ngono yo...

 

Hehe.. cuman pelepasan emosi saja yang gak pas menurut saya..

 

Semakin mengurut dada saya (garuk garuk sirah barang) ketika teman saya seperti tidak terima ketika ada kata kata brengsek dan homo

lha kowe gonduk e piye to nda..?”

 

kan yo ora bener to ndik, ora kabeh wong lanag koyo ngono, ora kabeh wong lanang brengsek.. jajali piye kowe yen dionek ke ngono..!”

 

Sambil melihat kiri kanan karena beberapa pasang mata mulai memandang kami, saya mencoba menenangkan dia,

iyo nda.. sante rak wis.. ndonya ki bunder..”

Gak sambung? Soalnya saya sendiri bingung kenpa teman saya itu juga tiba tiba menjadi lantang dalam menyuarakan “gender” lelaki.

 

Batin saya ingin berkata tapi tak mampu...

....nda kowe kok jengkel nopo kan sing brengsek utawa homo kuwi kan wong nggantheng? Lha kowe kan trimaning “hampir” nggantheng...

 

pembaca ada yang gak terima..? mohon attach foto diri anda ke mail saya nanti saya analisa

 
Posted by endik sangar at 16:31:17 | Permanent Link | Comments (13) |
1 2